Skip to content

Chatting edisi PEMIRA [Pemilu Raya] part 1

December 13, 2011

Assalamu’alaikum sahabat-sahabat SKI…

Udah pada tau blm Kampus kita lagi pesta? tau ga pesta apa? kita sedang PESTA PEMIRA (PEMILU Raya) nih.. Itu tuh, yang milih anggota dewan, Presma, Wapresma, dan ketua himpunan.

Udah pada terbayang belum calon yang mau kita dukung? sebagai seorang Muslim, tentu kita tidak boleh sembarangan memilih pemimpin. Jangan sampai ibarat “memilih kucing dalam karung”, oleh karena itu temen2 dari SKI mau memberikan sedikit pencerahan nih..

  1. Bagaimana sih pandangan Islam mengenai kepemimpinan?
  2. Boleh ga sih sebenarnya perempuan menjadi pemimpin?
  3. Bagaimana kata ahlinya?

 

 mau tau? Yuk simak baik-baik

 

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNya kepadamu. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya,dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 6:165) 

 

Dalam konteks kepemimpinan, Nabi Muhammad hanya meminta syarat agar seorang pemimpin bisa berlaku adil. Hal ini misalnya diceritakan oleh As Syaikhani yang meriwayatkan hadist tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari pembalasan (akhirat). Dari tujuh golongan itu, pemimpin yang adil ditempatkan atau disebut pertama kali oleh Nabi.

Hadist yang lain, yang mengatakan bahwa setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya, harus diterjemahkan pula sebagai sebuah ancaman serius dari Allah dan Rasul terhadap pemimpin yang tidak berlaku adil. Sampai pada titik ini dapat dimengerti mengapa kedudukan pemimpin lalu menjadi istimewa. Dia dijanjikan akan masuk surga pertama kali, sekaligus diancam akan menjadi penghuni neraka juga dalam rombongan awal.

Adil sebagai pemimpin tak harus dipahami hanya dalam soal memutus sebuah perkara. Namun adil yang diminta kepada pemimpin adalah juga mencakup aspek kesanggupan untuk selalu menjaga amanah (jujur), tidak khianat, mampu melindungi yang dipimpin (tidak otoriter) dan perilakunya bisa menjadi contoh (memberi inspirasi dan teladan).

Syarat-syarat itu niscaya tak akan bisa dipenuhi oleh pemimpin manapun melainkan mereka yang berpegang teguh kepada ajaran Allah dan Rasulnya. Bercermin pada akhlaq Nabi, seorang pemimpin akan bisa berbuat adil jika paling tidak, mewarisi empat sifat Nabi. Empat sifat Nabi itu adalah Amanah (tidak korup), Fathanah (cerdas), Tabligh (mampu berdiplomasi), danSiddiq (benar, dipercaya atau jujur).

 

Untuk itu, kita-kita yg notabene memiliki hak untuk memilih, hendaknya memilih orang yang terbaik dan paling tepat untuk jabatan yang akan diembannya. 

 

Mengenai perempuan sebagai pemimpin, bagaimana sih pandangan Islam terhadap hal tersebut?

Nggak usah bertele-tele, let’s check it out!

[Q] boleh ga sih sebenarnya perempuan menjadi pemimpin?

[A] boleh, namun ada dasar dan batasannya. Peran perempuan sebagai pemimpin yang diperbolehkan yaitu:

1. pemimpin dalam rumah tangga suaminya

2. pemimpin dalam shalat dengan catatan makmumnya perempuan

3. pemimpin dalam organisasi atau perusahaan

 

[Q] apa dasarnya?

[A]  sebuah hadist mengatakan:

“setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya mengenai kepemimpinannya…”(HR. Bukhari Muslim)

Jadi, setiap orang berhak menjadi pemimpin.

 

[Q] lalu bagaimana dengan hadist ini

Tidak akan beruntung suatu kaum yang mana urusan mereka dipimpin oleh perempuan.” (HR. Imam Bukhari)

[A] asal muasal dari hadits di atas adalah ketika Rasulullah SAW mendengar Bauran binti Kisra mengambil jabatan pemerintahan Persia. Hadits di atas diriwayatkan setelah terbunuhnya Khalifah ketiga, Utsman Bin Affan RA, dan munculnya Ummul Mukminin Aisyah RA yang memimpin pasukan Jamal (unta) yang terkenal itu.

 

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang tentunya tidak diragukan lagi keshahihannya. Beliau adalah perawi yang paling banyak meriwayatkan hadits shahih. Meski kita menerima kebenaran redaksi hadits ini, namun tidak berarti dapat dipahami bahwa isinya melarang perempuan untuk menduduki jabatan jenis apapun, termasuk jabatan dalam pemerintahan.

Dalil-Dalil dan Pendapat Ulama

Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, larangan dalam hadits di atas berlaku pada jabatan yang mengharuskan perempuan mengurusi prajurit perang, seperti jabatan Jendral, Komandan, dan termasuk juga Presiden. Larangan di atas juga berlaku dalam jabatan-jabatan tertentu yang telah disebutkan secara eksplisit didalam nash al-Quran dan Sunnah, seperti Imam dan/atau Khatib sholat Jumat dan Sholat Hari Raya.

Dalam sejarah kita juga mendengar kehebatan Ratu Balqis yang akhirnya masuk Islam dan diperistri oleh Nabi Sulaiman AS. Al-Quran memuji pemerintahan sang Ratu yang gemilang atas kekuatan akal dan upaya yang dia lakukan untuk menyelamatkan rakyatnya.

Ayat mengenai Ratu Balqis menjadi bukti bahwa hadits di atas adalah berita terhadap apa yang terjadi pada pemerintahan Bauran dengan kerajaan Persianya, dan mengenai kemungkinan masa depan yang bakal terjadi. Maknanya menjadi sederhana, dan hilanglah pendalilan hadits di atas terhadap larangan perempuan dalam memegang jabatan publik. Demikianlah menurut Mufti Yusuf Al-Qaradhawi. (Kitab Al-Fatawa al-Muashirah)

 

Imam al-Ghazali pernah berbicara mengenai hal ini: “Masalah memberi ketetapan hukum bukanlah masalah milik laki-laki dan perempuan, tetapi masalahnya adalah masalah kemampuan yang timbul dari dalam diri atau dengan pembelajaran ilmiyah. Sebab seringkali kaum perempuan mempunyai kemampuan lebih dari kaum laki-laki.”

 

So… Masalah mengenai pemegang jabatan publik bukanlah masalah gender, akan tetapi masalah kemampuan. Dan tidak jarang perempuan mengungguli laki-laki dalam masalah tertentu, seperti ketelitian, disiplin, keilmuan, dll. 

Meski demikian, perempuan tetap harus berada dalam koridor yang benar dan tidak keluar dari batasan rel yang telah digariskan oleh agama. Maka, pembolehan memegang jabatan publik tidaklah berarti bahwa perempuan boleh mengambil alih semua tugas publik, khususnya yang memang harus dipegang dan dijalani oleh laki-laki, seperti Imam sholat Jumat, dll, sebagaimana yang telah kita bahas di atas.

Wallahu A’lam Bishshowab

 

Apa kata Mereka

  • Wanita jadi pemimpin boleh-boleh saja sepanjang untuk mengurus manajerial. Misal jadi walikota, gubernur, anggota DPR, menteri, dll. Tapi bila untuk pemimpin Negara/bangsa/umat hanya pantas oleh laki-laki, mengingat perbedaan qodra/fitrahnya. (Ust. Asep Rodhi)
  • Di zaman khalifah Umar bin Khattab, sahabat mengangkat Ummu As Syifa al Ansyoriah sebagai pengawas dan pengontrol pasar madinah setara dengan menteri perekonomian saat ini. Jadi, bila syarat terpenuhi, yaitu memiliki kemampuan, keahlian, dan moralitasnya baik, maka perempuan menjadi pemimpin tidak masalah. (Ust. Ma’mur Hidayat)

 

So, silahkan sahabat semua ikut berpartisipasi aktif dalam PEMIRA, demi kampus IT Telkom yang lebih baik. Ingat, suara kalian menentukan nasib kampus kita, so pilih dengan hati nurani ya…  Semangat Menebarkan KEBAIKAN!

sumber :

https://www.facebook.com/notes/motif-ski-ittelkom/chatting-chari-tahu-tentang-islam-itu-penting-edisi-pemira/187949054631779

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: