Skip to content

Chatting edisi PEMIRA [Pemilu Raya] part 2

December 13, 2011

Mendahulukan tercegahnya kerusakan

 

Dar’ul mafasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih. Ini kaidah yang indah dalam menentukan suatu keputusan. “Menolak kerusakan itu, didahulukan daripada teraihnya kebaikan-kebaikan.” Kaidah ini sesungguhnya tercermin dari keseluruhan teks Piagam Madinah yang kita kutip sebagian kecilnya berikut ini:

“…Sesungguhnya orang Yahudi wajib mengeluarkan dana bersama kaum muslimin selama mereka diperangi oleh musuh. Orang Yahudi Bani Auf merupakan satu bangsa bersama kaum muslimin. Bagi Yahudi agama mereka, bagi kaum muslimin agama mereka. Budak-budak dan jiwa mereka terlindungi, kecuali bagi orang-orang yang berbuat dan melakukan tindakan kejahatan..

Rasulullah SAW memasuki madinah sebagai seorang pendatang, tetapi telah memiliki pengikut yang banyak. Nilai tawar itulah yang kemudian beliau pakaiuntuk menyusun pakta kerjasama yang kuat antara beliau dengan semua kelompok berpengaruh di Madinah. Mereka terikat oleh kepentingan yang sama untuk menjadikan Madinah sebagai tempat tinggal bersama, yang tetap kondusif dan aman dari gangguan musuh. Substansi ini lebih bersifat mencegah kerusakan.

Sebenarnya, selain dalam “what” dan “How”, kaidah ini dipakai oleh umat muslim untuk merumuskan kerjasama mereka dengan siapapun. “Who”-nya juga. Sesungguhnya dalam konteks Islam dan da’wah, mencegah kemunkaran dan kerusakan itu didahulukan daripada meraih kebaikan-kebaikan.

Seperti apa pemimpin yang akan dipilih?

Jika ada dua pilihan, dimana yang satu berkompeten dalam menebar kebaikan namun tak mampu bersikap terhadap kemunkaran, sementara satu pihak lagi adalah orang yang mampu mencegah kerusakan mesti kemampuannya menebar kebaikan belum teruji, mana yang dipilih?

Jawabanya Dar’ul mafasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih, Pilihlah Pencegah kemunkaran! Karena sesungguhnya kemashlahatan sejati di sisi Allah hanya dapat diraih dalam kondisi kemunkaran dan kerusakan minimal. Di situlah barakah Allah dikaruniakan, bukan pada orang yang menebar pembangunan dan kebaikan-kebaikan namun tak mempedulikan kemunkaran. Barakah Allah turun pada ketaqwaan: takut yang sangat kepada Allah untuk mendurhakai-Nya.

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raaf:96)

(Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim, Salim a. Fillah)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: