Skip to content

Mari bertoleransi :)

December 24, 2011
Sebenarnya bukan itu judulna, ini sebuah bacaan yang menarik melihat fenomena yang akan tiba dekat-dekat ini .Semoga bermanfaatm🙂
Dari Ustad Sarwat [https://www.facebook.com/ustsarwat/posts/342705739080088]
Biasanya ceramah-ceramah agama Islam yang terkait dengan agama Kristen lebih sering mengutip surat Al-Baqarah ayat 120, yaitu tentang orang-orang yahudi dan nasrani yang tidak akan ridha kepada umat Islam hingga umat Islam ini ikut dengan millah mereka.
Ceramah model begini sudah saya sering dengar sejak masih duduk di SMP di awal tahun 80-an. Dan biasanya habis mendengar ceramah model begini, semangat anti Kristen saya berkobar-kobar. Kalau melihat orang Kristen, saya mau gebukin saja.

 

Tapi hari ini ketika saya membuka surat Al-Maidah : 82-83, saya merasa agak bingung, kenapa orang-orang nasrani di ayat ini disebutkan sebagai orang yang paling dekat cintanya dengan kaum muslimin. Coba perhatikan terjemahan ayat berikut :

Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi. (QS. Al-Maidah : 82-83)

Karena itu saya coba teliti dan renungkan, kenapa ayat ini malah menyebutkan kedekatan dan kecintaan orang-orang Kristen kepada umat Islam?

Bukankah selama ini kita lebih sering mendengar kisah tentang bentrokan antara Islam dan Kristen?

Ambil contoh misalnya kasus mengeboman atau pembakaran gereja, atau kerusuhan di Ambon beberapa tahun yang lalu. Semua itu menyisakan kesan bahwa umat Islam dan Kristen agak jarang akur di negeri kita.

Apalagi kalau kita kaitkan dengan peristiwa 11 September di Amerika, rasanya perang salib jilid dua nyaris terjadi. Dan perang salib aslinya di masa lalu, juga mengesankan adanya permusuhan abadi antara Islam dan Kristen.

Dan salah satu tujuan Belanda datang ke negeri kita, selain untuk merampas negeri dan berkuasa, ternyata juga punya tujuan untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa Kristen.

Tetapi kenapa Al-Maidah 82-83 ini malah bicara tentang rasa cinta mereka kepada umat Islam?

Bahkan Al-Quran memuji para pendeta dan rahib sebagai orang yang tidak menyombongkan diri. Malah mereka itu ketika mendengar ayat Al-Quran, sampai menitikkan air mata dan mengakui kebenarannya.

Lagi-lagi saya sempat mereka aneh dengan ayat Quran yang satu ini. Kok beda banget ya dengan yang biasanya dibacakan oleh para ustadz tentang siasat Kristen yang kita dengar selama ini?

Rupanya sejarah umat Kristiani di masa Rasulullah SAW memang jauh berbeda dengan keadaannya sekarang ini, khususnya dalam hubungannya dengan umat Islam di negeri kita. Di masa Rasulullah SAW, nyaris hampir semua kejadian yang terkait dengan umat Kristiani, berlangsung dengan damai dan sangat dekat.

Ambillah contoh misalnya ketika Pendeta Buhairah berupaya melindungi Nabi SAW -yang saat itu masih kecil- dari ancaman pembunuhan oleh orang-orang yahudi. Paman Nabi, Abu Thalib segera mematuhi anjuran Pendeta Buhairah untuk pulang kembali ke Mekkah, demi keselamatan nyawa sang calon Nabi terakhir.

Contoh lain adalah ketika Nabi SAW diusir oleh warga Thaif dengan dilempari batu, hingga beliau berdarah-darah. Ternyata yang menolong beliau SAW adalah seorang penjaga kebun anggur yang beragama Kristen.

Contoh lainnya adalah kisah Isra’ Nabi Muhammad SAW. Disebutkan dalam banyak riwayat, bahwa sebelum beliau terbang ke langit di malam itu, beliau SAW sempat shalat di masjid Al-Aqsha. Menarik untuk diteliti, bahwa masjid Al-Aqsha yang saat itu disebutkan di dalam Al-Quran, pada hakikatnya masih merupakan tempat ibadah orang-orang disana, khususnya yang beragama Kristen. Meski pun Al-Quran menyebutnya sebagai masjid, namun pada hakikatnya di saat itu tempat itu bukan masjid, melainkan tempat ibadah Kristen. Tetapi Nabi SAW shalat di tempat itu.

Dan contoh yang paling jelas adalah kisah yang menjadi latar belakang ayat di atas, yaitu kisah Raja Habasyah, An-Najasyi. Beliau itu seorang raja dari sebuah kerajaan Kristen di benua Afrika. Namun Rasulullah SAW sengaja mengutus kepadanya para shahabatnya yang minta perlindungan.

Bayangkan, Rasulullullah SAW memerintahkan beberapa orang shahabat untuk datang menemui raja yang notabene beragama Kristen, untuk minta perlindungan dalam masalah agama. Dan asyiknya, ternyata An-Najasyi bersedia melindungi para shahabat nabi itu dari kejaran para pemuka Quraisy, yang dipimpin Amr bin Al-Ash, yang saat itu masih kafir.

Sampai-sampai sang Raja Kristen itu bilang,”Wahai Amr, demi Allah, Aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu, meski kamu memberi aku emas sebesar gunung”. Dan kepada para shahabat Nabi itu, justru sang raja Kristen itu malah berkata,”Silahkan kamu tinggal di negeriku dengan aman dan damai, sampai tuhan kalian memerintahkan kembali”.

Yang jadi pertanyaan, kok bisa-bisanya raja Kristen malah melindungi umat Islam dan menolak mentah-mentah permintaan para pemuka Quraisy untuk menyerahkan mereka?

Ternyata, sang raja terpesona dengan ayat Al-Quran yang dibacakan sampai beliau menitikkan air mata. Ternyata ayat yang dibaca adalah ayat tentang kisah kelahiran Nabi Isa alaihissalam, yang sangat indah dan mulia, yaitu surat Maryam.

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana seorang pendeta dan raja Kristen, kok bisa sampai menangis terharu dan mengucurkan air mata ketika mendengar ayat-ayat Al-Quran dibacakan, sampai-sampai dia rela memberikan perlindungan kepada para shahabat yang dikejar-kejar itu.

Dan peristiwa itu malah diabadikan di dalam ayat Al-Quran yang turun kemudian, sehingga tetap dibaca oleh bermilyar muslim hingga hari kiamat.

Bahkan bukan hanya sampai disitu. Sebagian riwayat yang sampai kepada kita menyebutkan bahwa sang raja Kristen itu malah mengakui kerasulan Muhammad SAW, sehingga ketika beliau wafat, Rasulullah SAW pun melakukan shalat ghaib untuknya.

Kasus lainnya adalah ketika terjadi perang antara Romawi melawan Persia. Tatkala romawi yang notabene beragama Kristen akhirnya memenangkan peperangan, ternyata umat Islam ikut bergembira. Hal itu ditegaskan di dalam surat Ar-Ruum di awal surat :

Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. (QS. Ar-Ruum : 2-5)

Orang Romawi bukan muslim, mereka pemeluk agama Kristen tulen. Tetapi ketika mereka berhasil mengalahkan bangsa Persia dalam peperangan, kok bisa-bisanya umat Islam di Madinah saat itu ikut berbahagia juga? Apa hubungannya?

Ayat ini juga menarik untuk dikaji lebih mendalam. Sebab selama ini stigma yang masuk di benak kita umumnya menyebutkan bahwa Kristen itu musuh umat Islam.

Dan paling mencengangkan adalah ayat kelima dari Surat Al-Maidah, yaitu :

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu (QS. Al-Maidah : 5)

Jelas sekali syariat Islam membolehkan umat Islam memakan makanan (maksudnya hewan sembelihan) dari para ahli kitab, yaitu Yahudi dan Kristen.

Dan jelas sekali juga, bahwa laki-laki dari umat Islam dihalalkan menikahi wanita ahli kitab, yaitu yahudi dan Kristen.

Kedekatan Kristen di masa lalu dengan umat Islam semakin sempurna, ketika para pemuka agama di Mesir malah meminta kepada Umar agar pasukannya segera merambah negeri Mesir itu. Dan Umar pun mengirimkan panglima Amr bin Al-Ash dan pasukannya.

Menarik sekali, ternyata kedatangannya pasukan ini malah disambut dengan hangat oleh warga Mesir. Saat penaklukannya, tidak ada satu pun gereja di Mesir yang dirobohkan, bahkan sebaliknya, banyak yang malah dibikin menjadi bagus.

Dan warga Mesir perlahan tapi pasti kemudian mulai masuk Islam, hingga sampai mereka pun berganti bahasa menjadi bahasa Arab. Orang-orang Kristen yang tidak mau masuk Islam, tidak pernah dikucilkan, bahkan kebebasan beragama mereka justru semakin dijamin. Sehingga meski tidak masuk Islam, mereka sangat cinta dengan umat Islam, sampai-sampai mereka pun ikut berbahasa Arab juga hingga hari ini.

Dan kisah kedekatan Kristen kepada umat Islam semakin sempurna dengan diserahkannya kunci Baitul Maqdis dari pemimpin tertinggi Kristen di Baitul Maqdis kepada khalifah Umar bin Al-Khattab.

Saking ingin menjaga perasaan umat Kristen, saat itu Umar sampai tidak tega kalau harus shalat di dalam rumah ibadah mereka, masjid Al-Aqsha.

Beliau pun keluar ke halamannya, lalu melaksanakan shalat berjamaah disana. Dan di tempat itulah kemudian dibangun satu bangunan lagi, yang kemudian disebut dengan masjid Umar.

Kalau kita sering lihat gambar Masjid Al-Aqsha berwarna biru dan berkubah keemasan, sebenarnya itu kurang tepat. Masjid itu bukan masjid Al-Aqsha tetapi masjid Umar. Masjid Al-Aqsha ada di sebelahnya, masih satu halaman.

Sebenarnya secara fiqih, tidak ada salahnya bagi Umar untuk shalat di dalam rumah ibadah Kristen itu. Namun kenapa beliau tidak melakukannya, konon karena beliau tidak ingin menyakiti perasaan pemeluk Kristen di Baitul Maqdis itu.

Seandainya umat Islam dan Kristen di Indonesia saat ini banyak membuka lembar sejarah, betapa indahnya kedamaian dan toleransi antara keduanya di masa turunnya wahyu, tentu kita tidak perlu berpecah-belah seperti sekarang ini. Semangat masing-masing pihak bukan untuk saling melibas atau menghabisi, tetapi saling mengormati dan menyayangi, persis seperti gambaran Al-Quran.

Tapi kapan kira-kira hal itu akan terjadi lagi? Wallahu a’lam bishshawab

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Sebenarnya bukan itu judulna, ini sebuah bacaan yang menarik melihat fenomena yang akan tiba dekat-dekat ini .Semoga bermanfaatm🙂
Dari Ustad Sarwat [https://www.facebook.com/ustsarwat/posts/342705739080088]
Biasanya ceramah-ceramah agama Islam yang terkait dengan agama Kristen lebih sering mengutip surat Al-Baqarah ayat 120, yaitu tentang orang-orang yahudi dan nasrani yang tidak akan ridha kepada umat Islam hingga umat Islam ini ikut dengan millah mereka.
Ceramah model begini sudah saya sering dengar sejak masih duduk di SMP di awal tahun 80-an. Dan biasanya habis mendengar ceramah model begini, semangat anti Kristen saya berkobar-kobar. Kalau melihat orang Kristen, saya mau gebukin saja.
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: