Skip to content

“Teguran Keras”

January 6, 2013

Alhamdulillah tepat adzan subuh pagi, saya tiba di kompleks. daripada langsung tidur karena capek,mending ditunda sebentar dan berangkat ke masjid karena letak masjid kompleks dengan rumah kontrakan saya lebih dekat. Setelah ambil wudhu dan beberes, berangkat menuju mesjid, dan Alhamdulillah masih bisa sholat fajr 2 rakaat. Iqomatpun berkumandang, si bapak pengurus masjid pun memberikan tanda saya suruh maju menjadi imam sholat subuh. Ya sudah karena memang biasanya seperti itu.

Kemudian sholat subuh berlangsung, dengan diiringi rintihan suara air hujan, dan suara hening, saya melantunkan surat As Syam (rakaat pertama) dan At tiin (raakaat kedua). Setelah sholat selesai dan dzikir sekitar 10 menit-an. ada seorang bapak mengucapkan salam, saya kira ada kuliah subuh, karena sebelumnya tidak pernah ada kuliah subuh, tak pikir karena saya seminggu di rumah dan tidak tau menau kabar terbaru di 2013 ya saya coba dengarkan.

” Assalammualaikum Wr. Wb , Alhamdulillah tadi sudah sholat subuh, suara imam-nya pun bagus, tapi seharusnya “tuan rumah” yang jadi imam,bukan malah tamu.Jadi tuan rumah dulu, ketika tuan rumah tidak mampu barulah tamu atau jamaah lain yang menggantikan.Kamu (dengan melihat ke saya) sudah ijin jadi imam? Kamu kan masih muda masih ada yang tuan rumah yang sudah layak jadi imam, harusnya permisi dulu dengan logat ala sumatera (keras). saya cuman senyum2 saja dan ketawa2 kecil. tak bisa berkata-kata apa-apa lagi karena yang berbicara orang yang lebih tua dan tau dibanding saya. Baru kemudia ketika ditanya, kamu sudah ijin belum ? baru saya menjawab, ” sudah bapak, sambil menunjuk ke pengurus DKM” . Akhirnya bapak DKM menjelaskan dan dengan suara agak tinggi bilang, beliau yang bertanggung jawab dan beliau hanya ingin berbagi peran, karena SDM di mesjid tersebut sangat minim. ” kemudian saya tambahkan bahwa saya juga tau etika menjadi imam bapak, g mungkin saya asal maju-maju saja ”

Ya Alhasil si bapak yang menegur tadi, sedikit salah tinggah, dengan sedikit memberikan kesimpulan, si bapak akhirnya menyalami saya, dan seluruh jamaah yang ada di masjid. Dan di akhir ngbrol dengan saya sampai pulang. Saya jadi teringat ibu saya yang bilang, ” masih muda kok malah disuruh jadi imam toh nak? ”

Sungguh walaupun itu baik, teguran keras yang dilontarkan membuat hati ini sakit, saya tidak pernah maju jadi imam mesjid kalau tidak ditunjuk, atau kalau memang tidak ada orang lagi baru saya maju. Ternyata memang benar lidah itu lebih tajam daripada pisau. Tapi ya sudahlah kejadian pagi hari ini cukup menjadi pembelajaran bagi saya dan rekan-rekan agar senantiasa memperbaiki kualitas dan kuantitas bacaan agar kita siap jadi imam kapanpun dan dimanapun.Kemudian senantiasa menggali lagi Ilmu , agar apa yang disampaikan tidak menyakiti hati orang lain dan bisa menjawab segala teguran dengan sopan dan halus karena bagaimanapun juga beliau orang tua yang patut kita hormati sebagai generasi muda.

One Comment leave one →
  1. January 7, 2013 12:52 am

    Luar biasa mas Bro. Niatkan dengan kebaikan. insya Allah menjadi pelajaran yang akan lebih bisa memaknai. Amin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: