Skip to content

Asal celoteh

May 12, 2013

Entah ini tulisan mau diberi judul aja, daripada bingung memikirkan judul mending sibuk mengeluarkan isi. Pada malam ini ingin menuliskan sebuah catetan menarik dan bentuk pendapat dan evaluasi diri. Saya kuliah di IT TELKOM, kampus yang mayoritas mencetak engginer-engginer tangguh yang nantinya akan siap mengabi atau berkarya di sebuah perusahaan-perusahaan besar baik domestik maupun internasional, sebut saja seperti itu.

Ibarat jalur, sudah hampir dipastikan sih kalau kuliah teknik ya jadi teknisi, menjadi sebuah kenistaan kalau keluar dari jalur itu, tapi yang namanya hidup, siapa yang tau? setiap orang, punya kepala, otak dan pemikiran masing-masing, tidak bisa disama ratakan bahwasanya yang kuliah teknik ya nanti jadi engginer. Tapi memang jalur keilmuwan mengharuskan kita mengaplikasikan apa yang kita buat.

Terlepas dari itu coba mengamati beberapa lingkungan sekitar, ternyata menarik , di hiruk pikuknya kehidupan seorang lulusan teknik, ternyata muncul passion2 yang akhirnya mengarahkan mereka ke beberapa bidang yang memang mereka gemari disamping disiplin ilmu yang mereka geluti selama beberapa tahun ini. Ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi dosen/guru, jadi pengabdi di LSM ada yang bekerja di luar disiplin ilmu yang mereka dapat, jauh.. bahkan sangat jauh.

Ingin mencoba berkaca pada diri sendiri, mau apakah diri ini setelah lulus? Kadang ada pemikiran , ngapain sih mikirin itu, nanti saja, yang penting lulus dulu habis itu baru, biarkan mengalir seperti air. Benar ? tapi ingat Air itu mengalir ke bawah ! bukan ke atas :)) . Banyak yang sering bingung setelah lulus, mau kerja dimana, ingin seperti apa? seperti kehilangan arah. Dan saya tidak ingin seperti itu.

Kalau ditanya saya ingin seperti apa? dari dulu memang idealisme yang dipegang sejak kuliah adalah menjadi pengusaha, tidak ingin disuruh orang lain, bebas berkreasi, bebas waktu (management waktu) dan apa-apa yang kita lakukan ada dikendali kita. Itu idealisnya. Tapi banyak teman yang seidealis akhirnya memeilih lebih realistis dan terjun ke dunia kantoran, ketergiuran fasilitas, gaji dan lain-lain memang besar, dan saya tidak munafik saya inginkan itu jika dikasih :))

Tapi akhir-akhir ini mencoba merenung dan merenung, kenapa orang-orang yang dijumpai, diajak bicara, sharing itu lebih fokus kepada orang-orang yang berwirausaha. Idelisme yang selama ini coba disamarkan akhirnya terkuatkan dengan silaturahim yang omongan menjurus ke itu-itu lagi. Jarang sekali yang bertemu dengan saya berbicara atau menyarankan nanti kamu kerja diini, disitu , disana, gaji segini, fasilitas seperti ini dan lain-lain.  Mindset dan lingkungan mempengaruhi sekali. mungkin ini takdir Allah yang harus dijalani, kemudahan Allah sudah tampak, bukti-bukti dan doa yang dimunajatkan perlahan menampkan keagungan-Nya, tinggal diri ini mau atau tidak, sanggup atau tidak untuk menapaki segala apa yang menjadi ketentuannya. Allah akan memberikan seember air, tapi jika kita baru punya gelas? begitu juga rejeki, jodoh dan lainnya, persiapkan dan pantaskan lalu tuntaskan.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: