Skip to content

Masih ada-kah wanita seperti itu?

March 1, 2016

Pernikahan menjadi obrolan yang senantiasa tak pernah lepas untuk dibicarakan, mengingat posisi saya yang belom menikah, selalu ada kompor disetiap pertemuan, wajar mengingatkan sebuah kebaikan sebuah pernikahan.
Ketika sebuah obrolan ketika menceritakan sebuah hiruk piruk sebuah rumah tangga ada beberapa obrolan yang bikin saya berdecak kagum masih adakah wanita seperti itu di zaman sekarang?
Seorang perempuan yang terlahir dari golongan orang kaya, bahkan sangat kaya, perempuan tersebut sedang mendalami agama, bahkan ketika kuliah dia menggunakan cadar, padahal pemahaman keluarga dia cuman biasa biasa saja. Ketika itu datang seorang laki laki hafal Qur’an 30 juz, untuk meminangnya, respon pertama, ditolak dan diusir oleh keluarga, karena sang laki laki tidak punya apa apa, tidak punya dunia, tidak punya mobil, motor seperti hirup pikuk indahnya dunia. Sampai akhirnya sang perempuan dijodohkan kepada pemuda kaya, diterima, namun Qadarallah ikatan itu lepas, dan sang perempuan kembali terpikirikan sampai terbawa ke dalam mimpi untuk bisa menikah dengan sang pemuda penghapal Qur’an. Jelas keluarganya tidak meridhoi, hal umum yang keluar dari para orang tua, nanti kalau kamu nikah sama dia, kamu mau tinggal dimana? makan apa? hidup kamu sengsara karena dia tidak punya harta, tapi apa jawaban dari perempuan tersebut , ” Ayah ibu, siapakah yang menikah ? siapa yang bakal menjalani kehidupan berumah tangga, apa ayah ibu tidak ingin melihat anak putrinya bahagia menikah dengan laki laki yang dicintai? ” kedua orang tuapun diam, dan selang beberapa hari ibu dia menelpon kepada pemuda untuk datang ke rumah untuk meminang dan segera melakukan pernikahan.. Alhamdulillah halal lahir batin..

Beberapa waktu kemudian, Allah anugerahkan seorang cabang bayi yang akan keluar dari rahim seorang ibu, seperti umumnya orang tua, ingin anaknya tidak merasakan sakit ketika melahirkan , kedua orang tua mengingkan anaknya untuk dioperasi sesar saja jadi tidak ada rasa sakit ketika melahirkan, jawaban apa dilontarkan sang perempuan ” Ayah ibu, siapakah yang akan melahirkan? siapakah yang menanggung rasa sakit itu? Apakah aku tidak boleh untuk mendapatkan jihad fisabillah bu? Ketika aku mati dalam keadaaan melahirkan buah hati aku ingin mati dalam keadaan yang in sya Allah, Allah hadiahkan surga untukuuuu… ”  Lagi lagi termenung kedua orang tua, dan akhirnya persalinan normal, ibu dan anak dalam keadaan sehat..

Setelah punya anak satu, Allah anugerahkan calon bayi kedua setelah beberapa bulan, ketika itu sang suami ingin pergi ke Solo untuk keperluan cari ustad dan santri sekaligus study banding untuk pembuatan Pesantren/rumah tahfidz, ketika itu pernyataan yang terlontar dari sang perempuan adalah ” Kak, nanti kalau kakak berangkat ke solo, adek ikut yaa? Adek mau nyariin madu adek, saudara adek sekaligus istri kedua buat kakak” , suamipun juga kaget dengan pernyataan itu, “dek, kondisi keuangan kita kan seperti ini dek, apa adek lupa? ” timbal sang suami, ” kalau uang kakak cuman 1 juta ya nanti dibagi 2, kalau memang masih kurang nanti kita pikirkan bareng bareng kak, pokoknya nanti adek ikut kalau kakak ke solo” jawab sang adek. Hampir diulang ulang terus pertanyaan dan pernyataan tersebut..
Adakah perempuan zaman sekarang yang bisa seperti itu? Masih adakah? jawabannya jelas hampir PUNAH !🙂 statemen seperti itu cuman bisa dikeluarkan oleh orang orang yang mempunyai keyakinan lebih, keimanan sekuat baja bukan selemah krupuk, apalagi buat orang seperti saya pribadi, yang sangat jauh dari itu..

” Akhi, Istri itu diliat dari siapa pendidiknya, yaitu siapa Suaminyaaa ” , Dulu perempuan tersebut ketika pertama menikah , pertama kali yang terlontarkan adalah harus beli rumah, mobil, motor, dan sebagainya, tapi sekarang semua itu tidak pernah lagi dipertanyakan. Dulu sang perempuan bilang, ” Aku kan pernah kuliah, mungkin masih bisa kerja untuk bantu bantu cari uang tambahan” , apa jawaban sang laki laki , ” Aku menikahi bukan untuk cari uang, apakah nasi sepiring dan lauk pauk masih kurang untuk memenuhi kebutuhan perutmu dek?, kalau memang kebutuhan kamu masih kurang nanti kakak akan kerja lebih keras lagi “. Tawaran dari orang tua uang cash puluhan juta mereka tolak, kebutuhan seperti kulkas, tv dll mereka tolak, apa jawaban sang suami ” jika kamu mau menerima uang dan semua kebutuhan itu yang bukan dari keringatku, maka aku tidak bertanggung jawab di akherat kelak, jika memang kamu tidak sanggup dengan kehidupan seperti ini silahkan pergi ke rumah orangtuamu untuk mendapatkan segala kesenangan duniawi yang dijanjikan orangtuamu ”
Mungkin kurang lebih seperti itu, sangat jarang sekali orang berpikiran seperti itu, bahkan ini diluar nalar manusia, tapi tidak tau nalar dia yang isisnya hapalan Al Qur’an dan hadist, semoga Allah meridhoi mereka sekeluarga.. Barakallhufiikum..Semoga ada hikmah/ibroh yang bisa diambil..
Wallahualam bishawab..

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: